Tubuh-Tubuh Spiritual Dibungkus dalam Pameran Lukisan Tunggal Karya Welldo

waktu baca 2 menit
Kamis, 16 Apr 2026 04:59 62 Detik Expost

SURABAYA, DetikExpost.com– Pameran lukisan tunggal yang bertajuk tubuh-tubuh spiritual karya perupa Welldo Wnophringgo resmi dibuka Rabu sore (15/04/26) di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali No 85 Surabaya. Pameran itu berlangsung selama tujuh hari (15-21 April 2026).

 

Pameran yang dibuka oleh Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur Deddy Haryono dikuratori oleh Agus “Koecink” Sukamto, perupa sekaligus penulis seni rupa, performance art oleh Welldo Wnophringgo, Mbah Gimbal Sang Putra Alam, serta musik electone dari Rijal. Serta para undangan dari seniman seperti, Taufk Hidayat atau yang lebih dikenal dengan panggilan Taufik “Monyong” dan juga komunitas lintas budaya di antaranya Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog.

 

Dalam narasinya Agus Koecink menyampaikan, perjalanan seorang pelukis bukan hanya sekedar teknik atau media, melainkan sebuah evolusi jiwa yang terekam dalam jejak-jejak visual. “Pelukis atau perupa bukan hanya sekadar menciptakan karya yang tertuang dalam goresan kanvas, melainkan juga mengekspresikan pesan dan keresahan jiwa yang dirasakan oleh sang pelukis tersebut”, jelasnya.

 

Menurut Agus, karya dari Welldo menggambarkan seni adalah laku hidup ( way of live) yang tidak bisa dibatasi hanya oleh bingkai kayu. “Tangan atau tubuh seorang pelukis bukan lagi hanya sekadar memegang kuas, melainkan sebagai sarana kritik sosial terhadap ketimpangan di masyarakat khususnya kaum marjinal”, ujar Agus.

 

Dalam kesempatan terpisah, hal senada juga disampaikan oleh Welldo, perupa eksentrik dengan aneka macam aksesoris yang menempel di tubuhnya. Saat dihubungi awak media melalui seluler, baginya seni bukan hanya tentang estetika, tetapi juga cermin sosial sebagai ruang untuk mengekspresikan keresahan dan ketimpangan yang dia lihat di masyarakat.

 

“Saya memposisikan diri saya sebagai saksi sekaligus pengritik realitas, isu-isu kemanusian dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat”, ungkapnya.

 

Selain itu, Welldo juga menjelaskan dirinya mulai bertransformasi menjadi keheningan yang kontempelatif, beralih dari pengamatan eksternal (masyarakat),menuju eksplorasi internal (jiwa). “Ini adalah fase di mana spiritualisme menjadi kompas utama dalam lukisan-lukisan saya, dan tidak lagi ” berteriak” menuntut perubahan sistem, melainkan ” berbisik” mengajak penyucian diri dan kesadaran akan eksistensi yang lebih tinggi”, pungkas welldo.

 

Lukisan-lukisan karya Welldo menampilkan anatomi tubuh manusia yang unik dan elastisitas gerak tubuh, dalam perspektif alam yang bekerja penuh keteraturan dan keseimbangan.(ns)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hot News

2 minggu  lalu
103 Independen Multimedia Indonesia
3 minggu  lalu
67 Independen Multimedia Indonesia
3 minggu  lalu
120 Independen Multimedia Indonesia

Breaking News

Politisasi Energi Memantik Api Ditengah Ironi Barcode dan Dua harga BBM
2 minggu  lalu
103 Independen Multimedia Indonesia
Polres Kabupaten Pasuruan Tutup Mata Adanya Dugaan Arena Perjudian Sabung Ayam
3 minggu  lalu
67 Independen Multimedia Indonesia
LAINNYA